Pages

Minggu, 17 Mei 2015

Review Novel: Burung-burung Manyar



Orang Indonesia yg Anti-Republik
Judul Buku     : Burung-burung Manyar
Penulis            : Y.B. Mangunwijaya
Penerbit         : Kompas
Edisi                : 2014 (terbit pertama kali pada tahun 1981)
Tebal              : 406 halaman


Novel karangan Y.B. Mangunwijaya yg memberikan gambaran seorang anak Indonesia yg lebih memilih bergabung dengan tentara Belanda (KNIL) dibandingkan dengan tentara Indonesia bentukan Jepang. Kita akan dibawa dengan pergolakan batin, dan  percintaan tokoh utama terhadap seorang wanita serta pandangannya terhadap Republik Indonesia. Keluarganya hancur karena pergolakan yg terjadi di dalam negeri.

Sebuah novel yg menceritakan anak Indonesia yg masih keturunan keraton bernama Setadewa dengan segala permasalahan hidup dan pilihan yg harus ia ambil. Memiliki ayah keturunan ningrat yg menjadi tentara Belanda berpangkat Letnan dan Ibunya yg asli Belanda. Akibat pergolakan yg terjadi di Indonesia dengan adanya Jepang serta Belanda merubah hidup Setadewa. Saat Belanda masih menguasai Hindia-Belanda (baca:Indonesia), keluarga Setadewa penuh dengan kedamaian. Setadewa juga memiliki hubungan dengan Larasati atau Atik.  Tetapi semua itu berubah semenjak Jepang menginvansi Hindia-Belanda dan mengusir Belanda dari tanah Nusantara.

Novel ini terbagi dalam tiga bagian. Bagian pertama menceritakan tentang masa kecil Setadewa serta Larasati. Pada bagian ini Setadewa diceritakan bagaimana Setadewa bermain dan berteman dengan anak-anak bawahan Ayahnya. Larasati, anak keturunan ningrat yg digambarkan suka dengan burung-burung. Pada bagian dua ini, konflik, pergolakan batin, percintaan, kehilangan, keputusan untuk meninggalkan Indonesia serta kesedihan yg dialami oleh Setadewa serta Larasati. Bagian tiga bercerita bagaimana Setadewa menjadi orang berhasil dan bertemu kembali dengan Larasati. Epilog yg mengejutkan.

Buku ini sangat mudah untuk dicerna dengan alur cerita yg mengalir tepat serta berlatarbelakang di awal-awal kemerdekaan Indonesia. Membaca buku ini, anda akan dibawa dengan sudut pandang yg berbeda dan sikap kritis, humor yg sangat berbeda dengan cerita lainnya. Tokoh utama yg benci dengan Soekarno, Hatta serta Sjahrir menjadikannya pemuda yg berbeda dengan pemuda Indonesia lainnya. Lebih memilih menjadi tentara KNIL (Belanda) dari pada menjadi tentara Indonesia bentukan Jepang (HEIHO atau PETA). Namun di sisi lain, Larasati lebih memilih di pihak Indonesia dan menjadi sekretaris Sjahrir.

Tokoh utama yaitu Setadewa digambarkan sebagai seseorang yg penuh dengan emosi setelah kehilangan kedua orang tuanya. Setadewa adalah seseorang yg anti-republik, dan anti-jepang.  Sedangkan Larasati seseorang yg cerdas dan pandai berbicara serta sangat menyukai burung-burung. Kedua tokoh utama yg diceritakan memilih jalan perjuangannya masing-masing.

Humor, sindiran, kritik dan gaya bahasa yg khas dituangkan oleh Y.B. Mangunwijaya menjadikan cerita ini semakin bagus untuk dibaca. Terlebih lagi penulis mampu membuat cerita dengan memilih perspektif yg unik yaitu lebih memilih sudut pandang dari orang Indonesia yg memilih Belanda dibanding Indonesia. Penulis juga membawa pandangan baru mengenai Republik Indonesia yg baru merdeka dimata seorang tokoh utama Setadewa. Cinta antara Setadewa dan Larasati yg tidak mungkin terjalin dikemas dengan sangat menarik. Akhir cerita yg membuat kita terhenyak dan akhir cerita yg tidak bisa ditebak.

Penjelasan diatas memberikan gambaran sedikit mengenai buku novel “Burung-burung Manyar”. Ciri khas penulis yg sangat kental di dalamnya serta cerita yg begitu unik, unpredictable serta epilog yg menawan dan mengejutkan. Akhirnya, buku ini menjadi sangat layak untuk dibaca walaupun buku lama tetapi masih sangat bagus dan harus dibaca serta dimiliki oleh siapa saja. Karena buku ini memberikan pandangan terhadap suatu pilihan yg harus diambil oleh seseorang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar